Substansi Spiritual Dalam Islam

Sebagai sebuah tatanan nilai-nilai spiritual, Islam tentunya banyak memberikan pemahaman kepada para pemeluknya ajaran dan metode-metode mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dimana melalui ajaran dan metode-metode tersebut, sebagai makhluk ciptaan, manusia akan dibawa kepada sebuah cara pandang yang universal terhadap kehidupan dan eksistensi manusia itu sendiri. Selain suatu proses untuk mengenal sang pencipta, perjalanan spiritual seorang muslim, merupakan suatu pencarian eksistensi diri yang melibatkan segenap potensi manusia, yaitu hati dan fikiran. Karena hanya dengan hati dan fikiran yang ‘utuh’ manusia akan menemukan sebuah sudut pandang mengenai substansi spiritual yang dicarinya.

Sebagai makhluk multidimensi yaitu makhluk yang memiliki unsur fisik dan non fisik, proses pencarian nilai-nilai spiritual yang akan dilakukan seorang manusia tentunya bukanlah sesuatu yang mudah. Mengingat unsur fisik didalam diri manusia yang dalam proses aktualisasinya telah menciptakan realitas tersendiri dan terkadang sangat kontradiktif terhadap aspek spiritual, seperti materialisme dan rasionalitas didalam menentukan sebuah cara pandang. Pada masa sekarang, materialisme dan rasionalitas merupakan suatu wujud kongkrit eksistensi manusia. Sehingga segala sesuatu yang menyangkut kehidupan manusia harus didasari atas kedua hal tersebut.

Walaupun pada dasarnya materialisme dan rasionalitas menjadi salah satu elemen untuk mencari nilai-nilai spiritualitas, tetapi terkadang manusia menjadikan kedua aspek tersebut menjadi suatu akhir dari pencarian didalam kehidupan. Sehingga pada akhirnya manusia tidak mampu melepaskan diri dari kerangka kehidupan atau realitas yang diyakininya sebagai sebuah aktualisasi diri. Apababila seorang manusia masih terpenjara dengan aspek materialisme dan rasional, maka selama itu pula manusia tidak akan pernah mencapai suatu tahapan spiritual didalam dirinya. Oleh karena itu, manusia harus dapat membebaskan diri terlebih dahulu dari kedua realitas ini. Karena realitas ini bukanlah suatu realitas yang substansial (hakiki) melainkan realitas bentukan manusia sendiri sebagai suatu upaya mempertahankan dan menunjukkan eksistensi dirinya.

Contoh kongkretnya adalah berbagai pandangan terhadap eksistensi manusia yang di usung oleh berbagai ideologi diluar Islam. Dimana ideologi tersebut lebih mengedepankan manusia sebagai subjek sekaligus objek pengkajian. Sehingga kesimpulan yang muncul adalah kesimpulan yang tidak utuh dan semu, mengingat manusia adalah makhluk yang tidak abadi. Oleh karena itu, sebelum seorang muslim dapat memahami secara utuh mengenai aspek spiritual dalam Islam, maka dirinya terlebih dahulu harus dapat membebaskan diri dari berbagai pandangan-pandangan atau pemikiran-pemikiran yang semu.

Spiritual dalam Islam

Di dalam Islam sendiri pemahaman terhadap nilai-niai spiritual memang masih banyak diwarnai perbedaan. Dimana masing-masing pihak berkeyakinan, bahwa metode dan ritual yang mereka lakukan adalah salah satu upaya meningkatkan kualitas spiritual. Hal ini tentunya menjadi wajar, mengingat dalam memahami Islam masyarakat Indonesia dibenturkan kepada berbagai pandangan dan kepercayaan. Tetapi yang patut menjadi perhatian adalah, konsep spiritual didalam Islam tidak hanya ditentukan oleh aktivitas metode dan ritual keagamaan yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Melainkan sejauhmana seorang muslim mampu menafikan berbagai hal yang bersangkutan dengan egoisme dan pandangan yang bersifat manusia, kepada suatu pandangan yang universal yang datangnya dari sang pencipta.

Oleh karena itu, nilai-nilai spiritual didalam Islam tidak dapat diukur dengan tingkat keaktivan seseorang dalam menjalankan ibadah atau menghadiri kegiatan-kegiatan keagamaan. Hal tersebut merupakan salah satu media dan bagian kecil dari spiritual sesungguhnya. Karena pencapaian spiritual didalam Islam melibatkan seluruh dimensi dalam diri manusia, yaitu, hati, akal, dan fikiran. Sehingga didalam menjalankan kehidupan manusia dapat melepaskan diri dari hal-hal yang menyangkut humanisme dan berpijak terhadap nilai-nilai ilahiah (segala sesuatu yang datangnya dari Allah). Penafian humanisme dalam kehidupan bukan berarti manusia tidak dapat mengembangkan berbagai potensi yang telah diberikan sang kholik. Aspek ini lebih kepada, bagaimana manusia lebih dapat memerankan nilai-niali ilahiah sebagai subjek (realitas universal). Sehingga tidak ada lagi subjektifitas yang muncul dari manusia baik dalam aspek ibadah ataupun sosial.

Dengan menyerahkan dan melandaskan segala sesuatu kepada nilai-nilai ilahiah, bukan berarti potensi manusia sebagai makhluk dengan berbagai kelebihan akan dimatikan. Karena dengan menjadikan nilai-nilai ilahiah sebagai sebuah pijakan, manusia akan diajak untuk lebih universal didalam menentukan berbagai hal yang menyangkut kehidupan. Karena sebagai sebuah agama, Islam tidak hanya agama yang mengatur tata cara beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Melainkan agama yang penuh dengan nilai-nilai social, politik bahkan agama yang mengajarkan bagaimana humanisme sesungguhnya.

Oleh karena itu manusia haru berpijak terhadap hal ini terlebih dahulu jika manusia tersebut ingin mendapatkan subtansi spiritual. Dimana seorang muslim tidak terjebak dalam perangkap tradisi, ritual, dan hal-hal lain yang bersangkutan dengan cara pandang diluar Islam. Karena nilai spiritual akan didapat apabila seorang muslim, telah memiliki suatu cara pandang yang benar, rujukan yang benar, dan metode yang benar didalam menjalankan syariat-syariat agama. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Proses perjalanan spiritual beliau tentunya tidak hanya ketika dirinya mendapatkan perintah sholat melalui Isra dan Mi’raj. Tetapi melainkan seluruh fase perjuangan beliau hingga tegaknya Islam.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai Nabi, Nabi Muhammad SAW pada saat itu ditugaskan untuk menegakkan suatu realitas manusia yang sesunguhnya, dimana ketika realitas tersebut tercipta, manusia akan menemukan eksistensi yang sesungguhnya. Perjuangan itu tentunya tidak hanya dihadapkan pada perjuangan fisik, tetapi juga perjuangan untuk merubah suatu keyakinan, cara pandang, paradigma masyarakat quraisy tentang tuhan dan banyak aspek sosial lainnya. Inilah suatu konsep spiritual dalam islam sesungguhnya. Dimana seluruh potensi yang ada dalam dirinya dioptimalkan untuk membangun suatu realitas yang sesuai dengan kehendak sang pencipta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s